Pembacaan Ulang Pengarang Stensilan (Jawa Pos, 28 April 2010)

Jawa Pos 28 April 2010

oleh Sidik Nugroho,

 

Nama Abdullah Harahap tak pernah dikenal sebagai tokoh penting dalam sastra Indonesia pada eranya (tahun 80-an). Namun ia adalah seorang pengarang produktif, menulis banyak novel stensilan tentang setan, balas dendam, seks, jimat, dan segala yang berbau horor. Kepengarangan Abdullah memang telah usai. Bahkan buku-bukunya kini susah ditemui di toko-toko buku loak sekalipun.

Namun, ada tiga sastrawan muda yang mempunyai kesamaan sejarah literer dalam membangun dunia kepengarangannya. Ketiganya, dalam suatu masa, pernah membaca karya-karya Abdullah Harahap. Dan mereka kemudian menghadirkan buku kumpulan cerpen, Kumpulan Budak Setan, sebagai karya kreatif-kolaboratif hasil pembacaan ulang karya-karya si pengarang stensilan itu.

Cerpen-cerpen dalam buku ini, utamanya ditilik dari cara bertuturnya, sebagian besar mengemas horor sebagai tema cerita. Kita tak disuguhi cerita-cerita yang mirip dengan adegan-adegan film atau sinetron bertema horor yang tayang di bioskop atau televisi, yang kebanyakan hanya mengandalkan penjejalan teror dan terkesan hanya menakut-nakuti pemirsa. Ketiganya berusaha menampilkan horor yang lebih membumi dan berpijak pada realitas, seperti yang pernah dinyatakan filsuf Thomas Hobbes: ”All generous minds have a horror of what are commonly called ‘Facts’. They are the brute beasts of the intellectual domain.” Ya, para cerpenis di buku ini berupaya mengisahkan horor dengan lebih masuk akal, lebih manusiawi.

***

Cerpenis Ugoran Prasad dikenal sebagai seniman multitalenta yang menggeluti berbagai bidang seni seperti film, teater, dan musik, selain sastra. Dalam buku ini Ugoran menghadirkan cerita-cerita yang tergolong gamblang dalam upayanya menjabarkan horor. Tapi, ada juga cerpen yang kelewat liar dan vulgar berjudul “Topeng Darah”. Dalam cerpen ini Ugoran memadukan horor dengan mimpi buruk, dengan penggambaran yang sadis.

Cerpennya yang lain, “Hidung Iblis”, memuat banyak dialog dengan motif paksaan dan tekanan dari tokoh utama. Dialog-dialog ini mengingatkan pembaca pada film-film mafia yang dibintangi Robert De Niro, atau tokoh yang diperankan Joe Pesci dalam film Goodfellas atau Al Pacino dalam Scarface. Dalam cerpen ini Ugoran mampu menghadirkan bacaan yang filmis dan naratif.

Dua cerpennya yang lain, “Hantu Nancy” dan “Penjaga Bioskop”, terbilang berhasil mengajak pembaca menyusuri misteri yang berkecamuk sepanjang cerita.

Gaya penceritaan Eka Kurniawan berbeda dengan gaya Ugoran. Eka menghadirkan nuansa-nuansa mistis dan romantis dalam dua cerpennya: “Taman Patah Hati” dan “Riwayat Kesendirian”. Dalam dua cerpen ini, kita nyaris tak menemukan nuansa horor yang mencekam.

Nuansa mencekam baru terlihat pada cerpen Eka berjudul “Penjaga Malam”, yang menjadi pembuka buku kumpulan cerpen ini. Eka menampilkan horor dengan suasana yang sunyi senyap. Kelebihan Eka, ia mampu mengemas suasana mistis itu dengan estetika bahasa yang terjaga.

Namun, pencapaian terbaik Eka ada pada cerpen “Jimat Sero”. Di cerpen ini dengan sangat lugas Eka menceritakan tulah yang harus ditanggung seorang pria yang memiliki jimat. Seorang pria yang sebenarnya tak perlu berjimat karena awalnya menyatakan, ”Umurku dua puluh sembilan tahun, dan aku baik-baik saja tanpa jimat sero.”

Jimat itu membuat kehidupannya yang awalnya berjalan serbabaik dan mulus berakhir pilu dan pedih. Jimat itu membuat batin si pria terbelah dan jiwanya menjadi kacau karena membiarkan si pemberi jimat mengendalikan dan menguasai hidupnya.

Cerpenis Intan Paramaditha tampak paling terobsesi dengan tema besar horor. Mirip dengan Ugoran, ada sebuah cerpen Intan yang sangat mencekam dan membuat pembacanya resah. Itulah cerpen berjudul “Si Manis dan Lelaki Ketujuh”. Cerpen ini mengisahkan seorang pria yang mendapat pekerjaan mengerikan: melayani nafsu berahi seorang wanita dengan wajah hancur dan berbau bangkai hewan yang baru mati. Sebuah pekerjaan yang tak hendak dipilihnya, namun terpaksa dipilih karena tuntutan ekonomi.

Dua cerpen Intan yang lain, “Pintu” serta “Apel dan Pisau”, pemilihan karakter utamanya terkesan monoton: wanita yang dikecewakan. Cerpen yang mewakili kemahiran Intan bercerita adalah “Goyang Penasaran”. Di sini ia membangun cerita bertema balas dendam dengan alur yang sangat tertata. Di cerpen ini, isu feminisme pun tersirat: bagaimana seorang wanita ingin diperlakukan dengan wajar dan adil.

Tampilnya buku kumpulan cerpen ini perlu disambut mengingat proses kreatif yang ditenun masing-masing penulisnya bukan sekadar membaca ulang karya-karya Abdullah Harahap. Ketiganya adalah pengarang muda yang peka dengan arus zaman dan perkembangan sastra Indonesia mutakhir. Buku ini hendaknya dipandang sebagai sebuah upaya membangun kontekstualisasi yang pas bagi horor saat ini –horor yang akan terus ada di sepanjang zaman.

Judul buku ini, Kumpulan Budak Setan, dalam kata pengantar yang disusun ketiga penulisnya disebut sebagai frasa yang sering muncul dalam karya-karya Abdullah Harahap. Namun judul itu juga memuat refleksi bagi sidang pembaca: bahwa manusia selalu dihadapkan pada pilihan yang menggiurkan, yang ujung-ujungnya membawanya masuk perangkap menjadi budak-budak kegelapan. Waspadalah! (*)

*) Sidik Nugroho, Guru SD Pembangunan Jaya 2 Sidoarjo

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: